Cara Mudah Membangun Loyalitas Karyawan dengan Apresiasi dan Afirmasi

Artikel ini merupakan kutipan dari www.strategimanajemen.net

Istri saya pernah bercerita tentang satu training yang dia pimpin. Sebelum memulai ke sesi utama, dia memulai dengan 10 menit sesi santai.

Dia meminta para peserta untuk berdiri, jika pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan situasi mereka.

“Siapa yang berusia lebih dari 30 tahun?” setengah peserta berdiri.

“Siapa yang belum menikah?” seperempat peserta berdiri.

“Siapa yang sudah menikah namun belum dikaruniai anak?” satu orang berdiri.

“Siapa yang berasal dari Jakarta?” lebih dari setengah peserta berdiri.

“Siapa yang berasal dari luar Jawa? satu orang berdiri.

Kemudian istri saya bertanya kepada peserta yang berdiri, “Apa yang kalian rasakan ketika kalian berdiri, apalagi sendiri ?”
Peserta yang sendirian berdiri menjawab, “Tidak nyaman Bu, ga enak sendirian”.

Yang lain turut merespon, “Kayanya mending ga usah berdiri Bu”.

Istri saya menjawab, “Itulah yang dirasakan banyak orang, ketika situasi mereka berbeda dengan sebagian besar orang di sekitarnya. Itulah mengapa setiap tim, setiap perusahaan, harus punya mindset inclusiveness. Merangkul setiap anggota, setiap rekan, setiap individu di dalamnya.”

Saya setuju dengan jawaban istri saya tersebut.

Karena, manusia itu butuh diterima, butuh acceptance. Yang dalam bahasa istri saya tadi, inclusiveness, di-include, dirangkul, diterima menjadi bagian tim, apapun situasi atau latar belakang si individu.

Selain diterima, manusia itu juga butuh yang namanya:
• Appreciation atau dihargai;
• Affection atau dikasihi;
• Affirmation atau didukung.

Bersama Acceptance, keempatnya disingkat 4A.

Dalam dunia kerja maupun bisnis, karena 4A ini sifatnya spiritual (masalah hati), sulit diukur dengan parameter seperti uang atau KPI semata. Butuh kecerdasan emotional untuk memahami dan mengaplikasikannya. Mirip seperti insting, secara science anda tidak bisa menjelaskan, tapi anda tahu bahwa itu ada.

“Kalau kebutuhan fisik, seperti sandang, pangan dan papan, dapat diukur dengan materi. Atau kebutuhan pikiran, yakni pengetahuan atau skill, yang bisa diukur dengan ijazah, sertifikat keahlian atau hobi.”

Sekarang, bagaimana dengan Appreciation, Affection dan Affirmation.

Appreciation.
Saya tidak tahu bagaimana budaya penghargaan di perusahaan atau bisnis anda. Tapi saya pikir anda setuju, bahwa dihargai berarti kerja keras anda diapresiasi.

Dan bagaimana rasanya diapresiasi?

Saya yakin menyenangkan, bahkan mungkin tak ternilai. Coba saja jawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

Pernahkah anda mendapatkan ucapan terimakasih dari atasan atau rekan anda?

Pernahkah nama anda disebut oleh pimpinan anda di depan umum sebagai bentuk kredit atas kinerja anda? Khususnya ketika pihak manajemen turut hadir.

Pernahkah anda dan anggota tim anda, diajak makan bersama oleh leader anda dengan uang pribadi dia sendiri sebagai bentuk terima kasih?

Jika jawaban anda iya untuk satu, dua atau ketiganya, bagaimana rasanya?

Kalau anda punya bawahan atau anak buah, pernahkan anda melakukan sebaliknya? Mengucapkan terimakasih, memberi kredit atas mereka di depan manajemen atau mentraktir mereka makan?

Jika belum, cobalah dan perhatikan reaksi mereka.

Affection.
Saya pikir, tidak ada bahasa kasih yang tidak diterima orang, sekalipun mungkin dicurigai awalnya.

Dikasihi, berarti turut dipedulikan oleh sesama anda. Dalam dunia kerja atau bisnis, itu berarti dipedulikan oleh atasan anda, rekan kerja anda, bawahan anda.

Contoh kongkritnya….

Ketika anda diberi izin untuk antar anak anda sekolah di hari pertamanya.
Ketika anda diberi waktu cuti untuk berlibur atau istirahat karena kerja lembur.
Ketika anda dijenguk rekan atau bawahan anda ketika sakit atau berduka.
Ketika anda dibawakan masakan sendiri buatan anggota tim anda.
Ketika anda diberi ucapan selamat ulang tahun oleh bawahan anda.

Dan jika anda pernah mengalami salah satu momen diatas, bisa jadi itu alasan utama anda tetap berkarir di tempat anda sekarang.

Atau jawaban mengapa ketika anda resign dari perusahaan lama, anda merasa berat hati.

Juga mungkin jawaban, mengapa anda merindukan tempat kerja anda dulu, ketika anda sudah berkarir atau berbisnis di tempat baru.

Affirmation.
Didukung, diberi support.

Saya tidak tahu situasi anda, tapi pengalaman saya, ketika ada dukungan dari atasan, dari rekan kerja, dari bawahan atau dari partner bisnis anda, seberat apapun tantangan anda, rasanya ringan.

Saya pikir pepatah lama bangsa kita, “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” berlaku di semua segi kehidupan termasuk dunia kerja dan bisnis.
Istri saya pernah menceritakan uneg-uneg salah satu anak buah dari rekannya yang selevel dengan dia.

Uneg-unegnya, “Bu, saya ‘ga masalah diberi tugas ini. Tapi yang saya butuh dari si Bos, dia mau mendengarkan dan bantu saya cari solusi. Kalau saya cerita problem saya, dia cuma respon, coba tanya si A atau B. Habis itu, besoknya minta progress. Cape kan Bu?”

Saya pernah punya atasan yang luar biasa, selama proyek berjalan, selalu menanyakan progress saya, kesulitan saya, dan berusaha membantu cari solusi jika ada masalah. What a great leader bagi saya.

Dan ketika istri saya bercerita uneg-uneg dari koleganya itu, saya pun teringat atasan saya ini. Saya pun berujar dalam hati, “Ah, itu rasanya didukung, disupport, thanks Boss.”

Sebagai penutup….

Saya mau berbagi kisah seorang Alexander Agung. Kisah seorang leader hebat di masanya, sekitar tahun 340 SM. Kisah yang saya pikir bisa mewakili makna 4A di atas.

Bayangkan gurun tandus, yang batu dan pasirnya dibakar oleh panas matahari. Kala itu tengah musim panas, rasanya seperti berada dalam panggangan. Alexander Agung bersama 30.000 tentara dan pasukan kalvari di belakangnya, berjalan melintasi gurun itu, gurun Gedrosian di Asia Kecil.

Sang Alexander, seperti setiap individu dalam pasukannya, sangat kehausan. Tapi dia tetap berjalan di garis terdepan.

Itu yang bisa dia lakukan untuk tetap maju. Dan ini yang membuat pasukannya tetap bertahan, karena melihat sang pemimpin menjalani hal yang sama dengan mereka.

Selagi mereka terus melangkah, sekelompok kecil pasukan infantri telah pergi mencari sumber air. Dan ketika menemukannya – walau hanya sedikit air tergenang di parit kecil – mengambil air sebanyak yang mereka bisa dan segera kembali. Membawa harta karun tak ternilai itu, kepada Alexander.

Dan sesaat sebelum mereka tiba, air pun dituangkan kedalam helm dan diberikan kepadanya.

Alexander, berterima kasih, mengambil helm tersebut dan dalam posisi yang bisa dilihat seluruh pasukannya, menuangkan air tersebut ke tanah.

Alexander turut merasakan kehausan tentaranya, menghargai usaha infantrinya, dia sendiri pun berjalan di garis terdepan, menyatukan diri dengan prajuritnya dan menjadi penyemangat seluruh anak buahnya.

He had shown 4A in real action.

Bagaimana dengan Anda?

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*